Sore harinya di hari yang sama, saat itu hari mendung tanpa hujan. Ditemani udara yang bertiup sepoi-sepoi (jarang banget Jakarta kaya gitu), saya melintasi sederetan rumah kontrakan. Dari sekian banyak aktifitas yang ada, pandangan saya tercuri oleh sepasang suami-istri (saya tebak umurnya sekitar 40th awal). Si suami terlihat kumal, bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana pendek, sementara sang istri tampak seperti baru selesai mandi, sungguh anggun mengenakan daster warna kuning dengan motif bunga. Sambil duduk di lantai teras yang sempit itu mereka bercanda dengan sesekali saling melempar senyum, malaikat kecil merekapun tampak bahagia berlarian di tanah lapang yang ada di depan kontrakan tersebut. Segelas teh yang terus mendingin jadi saksi kebahagiaan mereka sore itu.
Jadi teringat si Bos yang tadi pagi. Dengan uangnya si Bos bisa beli apa saja yang dia mau, bisa bahagiakan istrinya dengan uang belanja yang teramat sangat wah, bisa belikan anaknya mainan terbaru ataupun mobil mewah, bahkan kadang mereka sekeluarga pasti makan bersama di restoran, atau bahkan jalan-jalan ke luar negri bersama. Semua itu jelas tidak bisa didapat oleh keluarga yang tinggal di kontrakan tadi. Tapi sempatkah si Bos menyaksikan anaknya tumbuh besar, setidaknya mendengarkan curhatan kecilnya 1x sehari? Disela-sela kesibukan meeting di restoran hotel bintang 5 mungkinkah si Bos menengguk teh hambar di sore hari, yang dibuatkan istrinya dengan penuh kasih sayang?
Kesimpulannya setiap individu punya cara masing-masing untuk menemukan kebahagiaannya. Seperti keluarga di kontrakan tadi, mereka bisa bahagia mungkin karena mereka mensyukuri apa yang didapat hari ini. Mungkin satu sisi mereka menangis ketika semua harga melambung tinggi. Keluarga si Bos yang sangat berkecukupanpun mungkin secara materi mereka tidak ada masalah, namun bagaimana pusingnya si Bos memikirkan jumlah hartanya yang harus terus dia kumpulkan untuk membahagiakan keluarganya. Untuk anak dan istri si Bos mungkin kehilangan figur pembimbing, karena kini rumah mewah mereka hanya jadi ruang transit buat si Bos (seorang ayah dan suami yang harusnya tidak hanya jadi contoh, namun juga jadi pembimbing).
Kebanyakan dari kita adalah memusingkan harta untuk suatu kebahagiaan seperti si Bos, tapi masih menangis ketika semua harga naik. Jadi sebenarnya kita dalam posisi yang mengambil kerugian keduanya. Setidaknya ada 4 pertanyaan dari saya yang mungkin bisa dijadikan acuan untuk memulai memetakan tujuan kebahagiaan hidup yang baru
- Apakah bahagia itu datang karna kita memiliki harta yang berlimpah?
- Atau kebahagiaan itu karena kita bisa mensyukuri keterbatasan kita?
- Mungkinkah kita dapat keduanya?
- Atau memang salah 1 harus kita korbankan sebagai konsekwensi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar